Liburan ke Dieng Naik Angkutan Umum, Kenapa Tidak?

Telaga Sidringo. Dieng, Banjarnegara.

Siapa sih yang ngga kenal Dieng? Pasti tau lah, disini saya ngga akan bahas tentang destinasi wisata di dataran tinggi Dieng tapi mau bahas tentang cara menjangkaunya via transportasi umum. Emang, wilayah Dieng itu berupa pegunungan, tapi ngga pernah sepi dari pengunjung.

Nah, Wisatawan yang berkunjung ke Dieng dari arah timur pasti udah hafal jalur Wonosobo-Dieng, sebab transportasinya lumayan lancar dibanding jalur barat. Tapi gimana caranya yang dari arah barat biar efisien perjalananya via angkutan umum?

Sebelumnya kita tentukan dulu, kamu ke Dieng titik Start-nya dari mana.

1. Yang pertama, jika kamu dari arah Pekalongan.
Misal dari kota Pekalongan, kamu langsung menuju ke terminal Kajen, disana ada beberapa pilihan angkutan untuk menuju ke terminal Kalibening, Banjarnegara. Angkutanya berupa mikro-bus dan bus ¾ yang beroprasi setiap hari. Saya sarankan sihh mending naik bus ¾ PO.Muncul atau Arisa, karena lebih cepat dan ngga lama nge-temnya. Perjalanan Kajen-Kalibening memakan waktu sekitar 1 jam tapi usahakan jangan sampai lebih dari jam 3 sore pas nyampai di terminal Kalibening, soalnya bakalan susah nyari angkutan buat nyambung perjalanan ke Dieng, lebih baik start pagi atau malah dini hari dari terminal Kajen biar bisa langsung ke Dieng tanpa nunggu lama. Fyi, arus penumpang Kajen-Kalibening sibuk pas dini hari soalnya banyak penjual ikan laut dari Pekalongan yang jualan di pasar pagi Kalibening, Batur atau Karangkobar. Tergantung Kalender jawa.

Jalan Kalibening-Wanayasa

Setelah sampai di Kalibening langsung aja naik Mikro bus jurusan Karangkobar, dan minta turun di pertigaan Wanayasa untuk nyambung angkutan lagi. Biasanya Bus Wanayasa-Batur cuma ada pas pagi antara jam 05.00 sampai jam 08.00 pagi, kalo kesiangan sedikit pilihan satu-satunya Cuma Pick-Up. Setelah sampai di Batur, naik bus lagi jurusan Batur-Wonosobo dan turun di Dieng…dan Sampai!

Estimasi Biaya dan waktu Pekalongan-Dieng naik angkutan umum.
• Kajen-Kalibening (1 jam/40Km/Bus ¾ ) = Rp. 25.000
• Kalibening-Wanayasa (15 menit/12km/mikro Bus) = Rp. 7.000
• Wanayasa-Batur (20 menit/18km/PickUp) = Rp. 7.000
• Batur-Dieng (10 menit/9km/mikro bus) = Rp. 5.000

2. Yang kedua, titik Start Terminal Purwokerto.
Misal kamu dari Jakarta atau Jawa barat dan turun di terminal Purwokerto, langsung aja naik Bus ¾ jurusan Wonosobo. Kamu bisa naik PO. Cebong Jaya atau Teguh yang superrr cepat dan turun di terminal Banjarnegara. terus lanjutin mikro bus jurusan Banjarnegara-Karangkobar dengan waktu tempuh sekitar 1 Jam. Biasanya, mikro bus Banjar-Karangkobar Cuma sampai jam 5 sore setelah itu udah ngga ada lagi, jadi lebih pagi lebih baik.

Biasanya Mikro bus dari Banjarnegara-Karangkobar ada yang langsung menuju arah Kalibening. tapi lama nunggu penumpang di Karangkobar jadi mending lanjutin naik mikro Karangkobar-Kalibening dan turun di pertigaan Wanayasa. Sama kaya point nomer 1, kalo udah sampai Pertigaan Wanayasa perjalanan dilajuntin naik PickUp atau kalo lagi beruntung dapet Mikro bus. nyambung lagi di Batur arah Dieng naik mikro jurusan Batur-Wonosobo dan turun di Dieng. Sampai….

Estimasi Biaya dan waktu Pekalongan-Dieng naik angkutan umum.
• Purwokerto-Banjarnegara (1 Jam/38km/Bus ¾ ) = Rp. 15.000
• Banjarnegara-Karangkobar (1 Jam/26Km/Mikro Bus) = Rp. 15.000
• Karangkobar-Wanayasa (5 Menit/6Km/Mikro Bus) = Rp. 4.000
• Wanayasa-Batur (20 menit/18km/PickUp) = Rp. 7.000
• Batur-Dieng (10 menit/9km/mikro bus) = Rp. 5.000

Hadiah Akhir Tahun, Famtrip Banjarnegara

Tanggal 10-12 November 2017, aku mendapat kesempatan mengikuti kegiatan Famtrip blogger dan media yang diselenggarakan oleh Dinas Pariwisata Kabupaten Banjarnegara. Sebuah keberuntungan bisa bergabung dengan blogger dari berbagai daerah. Aku bersama 35 peserta yang terdiri dari blogger, jurnalis, dan fotografer bersiap mengexplore potensi wisata Kabupaten Banjarnegara.

Hari pertama, Jumat 10 November 2017
1. The Pikas Adventure

Peserta Famtrip Banjarnegara, @bajalananblog

Continue reading “Hadiah Akhir Tahun, Famtrip Banjarnegara”

Desa Wisata Winong, Alternatif Wisata Ramah Anak

OUTBOUND ANAK DI BANJARNEGARA

Silakan, Mbak. Duduk dulu, Pak Warno sedang dalam perjalanan ke sini.” Mbak Eni menyambut kedatangan aku bersama teman-teman Banjarnegara Tourism di depan warung Attaprata , warung sederhana yang didirikan oleh Pokdarwis Dewi Sri sebagai fasilitas penunjang wisata tubing dan outbound anak. Dengan wajah ceria, beliau menyalami kami satu per satu.

Betapa bahagianya kami mendapat sambutan yang begitu hangat dan istimewa. Dan ini kami dapat tiap kali datang ke Desa Wisata Winong. Ya, tiap kali karena ini bukan kali pertama kami datang ke Desa Wisata Winong. Kalau tidak salah ingat, sudah tiga kali ini kami silaturrahim untuk sebuah tujuan yaitu pemetaan wisata. Dengan suguhan utama keramahan, semacam ada rasa yang tertinggal di Desa Winong, Kecamatan Bawang, Kabupaten Banjarnegara.

TUBING ANAK DI BANJARNEGARA
rute tubing…

Continue reading “Desa Wisata Winong, Alternatif Wisata Ramah Anak”

Jangan Datang ke Bukit Asmara Situk

Selamat datang di tulisan perdana saya di blog yang dibuat secara kolektif untuk mengabarkan ke dunia bawhasanya Banjarnegara itu benar-benar “Ada”. Nah tulisan perdana ini sedikit nepotisme, saya tulis seputar kampung halaman sendiri karena kebetulan saya lahir di dusun Siweru desa Kalilunjar, Kecamatan Banjarmangu, Kabupaten Banjarnegara. Judul ‘Jangan Datang ke Bukit Asmara Situk’ mungkin menjadi pro kontra, akan terjadi kontra jika tulisan ini tidak dibaca dengan lengkap hingga bagian akhir.

Nah pertama kali saya ingin membahas kata “jangan” yang selama ini menjadi lawan secara psikologi, dimana seseorang terutama anak-anak akan melawan kata jangan. Contoh: seorang Ibu berkata “kamu jangan buka lemari itu ya nak!” kepada anaknya. Kemudian dalam benak si anak akan timbul rasa penasaran yang begitu membara, kenapa si anak tidak boleh buka lemari itu. Ada apa di dalam lemari?, hingga akhirnya rasa penasaran semakin menguat. Akhirnya perintah “jangan buka lemari” justru ia lawan, dan ia membuka lemari tersebut.
Mungkin ini salah satu alasan saya menuliskan judul menggunakan kata “Jangan”, harapannya akan dilawan oleh pembaca sehingga berdatangan para pembaca ke Bukit Asmara Situk.

Bukit Asmara Situk itu apa ?

Bukit Asmara Situk ya bukit biasa layaknya bukit-bukit yang lainnya di Nusantara. Bukit yang diberikan Tuhan untuk dimanfaatkan secara baik agar lebih memiliki nilai/manfaat. Warga kampung kami memanfaatkan bukit tersebut sebagai salah satu tempat wisata yang bisa menarik banyak pengunjung hingga berdampak baik untuk masyarakat setempat, perputaran ekonomi sedikit terbantu dengan adanya obyek wisata tersebut.

Ada apa saja di Bukit Asmara Situk ?

Banyak banget, kalau dituliskan di sini bakalan penuh dan sepertinya tidak cukup. Pun juga nanti jadi males baca, misal saya tulis; ada rumput, ada tapak sendal, ada ikat rambut jatuh, ada karet bekas nasi rames, dll. Nah kan kalau ditulis semua bikin bosen. Solusi biar ga bosen ya dengan cara datang langsung ke Bukit Asmara Situk, serius deh, buktikan !

Bukit Asmara Situk, Kalilunjar