Jelajahi Destinasi Wisata Dieng Banjarnegara

Kalau sudah sekali menginjakkan kaki di Dieng niscaya suatu saat akan kembali lagi berkunjung ke Dieng, bisa dibilang seperti ada bisikan yang memanggil untuk kembali, begitu kata Bu Ika salah satu peserta famtrip yang diadakan oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Banjarnegara yang sudah beberapa kali berkunjung ke Dieng.

Prolognya cukup segitu saja, kita mulai cerita asiknya.

Beberapa perwakilan dari komunitas Blogger Serayu diundang untuk mengikuti acara famtrip Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Banjarnegara. Selain kami ada juga temen temen blogger Jateng dari Semarang, Wonosobo dan juga beberapa jurnalis TV. Hari jumat tanggal 16 November 2018, start dari kantor Dinbudpar, kami menuju destinasi wisata di Dieng. Berangkat tanpa temen temen dari blogger Jateng karena mereka telah berkabar akan datang terlambat dan langsung menyusul menuju ke Dieng.

Rute yang dipilih ternyata lewat jalur Banjarmangu-Karangkobar-Pejawaran-Dieng. Sempet was was karena beberapa bulan sebelumnya saya lewat jalan ini kondisinya masih belum bagus. Ternyata eh ternyata sekarang sudah halus dan diperlebar meskipun pembangunan masih belum sepenuhnya rampung, tinggal sedikit lagi maka jalan ini menjadi mulus.

Sudah mepet waktu jum’atan, kami berhenti di masjid Pekasiran Batur untuk menjalankan sholat jumat. Suhu dingin sudah sepenuhnya menyelimuti, nyentuh air untuk berwudlu menjadi efek kejut pertama ucapan selamat datang di Dieng. Brrrr,,, air es nih, mata langsung melek karena dinginnya air.

Setelah menjalankan sholat jumat kemudian kami lanjutkan perjalanan menuju D’qiano Hot Spring untuk makan siang disana. Dan mulailah trip jelajah destinasi wisata Dieng Banjarnegara.

Nah, apa saja destinasi wisata di Dieng yang sempat kami kunjungi? Cekidot;

  1. Candi Arjuna


    Komplek candi arjuna ini merupakan candi hindu, Menurut prasasti komplek candi arjuna ini ada sejak abad ke-7. Tapi berbeda anggapan menurut para penganut agama hindu, mereka beranggapan bahwa komplek candi arjuna ini justru jauh lebih awal keberadaannya.
    Jika dikaitkan dengan masyarakat di Bali yang mayoritas beragama hindu, mereka menganggap bahwa candi hindu yang berada di Dieng ini merupakan candi tertua leluhur mereka.

    Oh iya, di komplek candi arjuna ini ada 5 buah candi yang tersusun yaitu; Candi Arjuna, Candi Srikandi, Candi Puntadewa, Candi Sembadra, dan Candi Semar. Tidak jauh dari komplek candi arjuna juga terdapat candi lainnya seperti, candi Setyaki dan candi Bima.

  2. Kawah Sikidang


    Mengapa diberi nama kawah sikidang? Dalam kurun waktu tertentu kawah ini akan berpindah dari satu tempat ke tempat lain, nah sesuai karakter kidang (kijang) yang suka loncat loncat, maka kawah ini diberinama sikidang. Sampai saat ini Kawah Sikidang merupakan kawah yang masih aktif loh, mengeluarkan gas, uap air dan material vulkanik lainnya.

    Tapi kenapa ya, kok bisa kawah berpindah-pindah? secara ilmiah saya tidak tau mengapa, tapi sempet ada obrolan ringan dengan peserta famtrip lainnya, mungkin karena material yang dikeluarkan sudah terlalu banyak dan kemudian menjadi padat sehingga menutup jalur keluarnya material dan tekanan dari dalam secara alami akan mencari jalan lain. Benar atau salahnya menjadi PR untuk cari referensi yang valid. 😀

  3. Sumur Jalatunda


    Sebelum sampai ke bibir sumur, pengunjung harus menaiki anak tangga. Ada yang unik dari anak tangga ini, setiap pengunjung yang naik menghitung jumlah anak tangga akan berbeda hasil hitungannya saat naik dan turun dan satu dengan yang lain, hasil hitungnya berkisar 80an. Wahh… Coba saja deh! Beberapa peserta famtrip beneran nyobain dan beneran beda hasil hitungnya.

    Sumur jalatunda ini dulunya merupakan kepundan yang mengalami letusan dahsyat, akibat dari letusan inilah kemudian terbentuk sebuah sumur dengan kedalaman 100an meter dengan luas mencapai 90 M kubik.

    Ada satu lagi info yang menarik, menurut kepercayaan masyarakat barang siapa yang bisa melempar batu sampai mengenai dinding sumur di sebrang sebanyak tiga kali berturut turut maka segala keinginannya akan terwujud.

  4. D’qiano Hot Spring Waterpark & Penginapan



    D’qiano Hot Spring ini merupakan wahana wisata air panas yang tertinggi di Indonesia. Air panasnya bersumber langsung dari mata air, panas air ini dihasilkan karena mata airnya yang berdekatan dengan kawah Sileri. Memang jadinya agak bau belerang si. Tapi tenang saja, air yang sampai ke kolam sudah melalui tahap penyaringan kok. Justru kandungan belerang dalam air ini bisa menjadi obat untuk penyakit kulit. Kalau kamu panuan, kurap, kudis bisa nyobain terapi berendam di mari nih. :V

    Tapi tapi tapi, ada sensasi yang seru banget jika kamu ke D’qiano dan bermalam di sana, jangan sampai tidak mencoba berendam air panas saat malam hari. Saat suhu Dieng menjelang malam semakin dingin, berendam di kolam air panas menjadi sensasi yang asik dan mendebarkan.

    Yap, untuk berendam dikolam air panas saat malam hari memang harus ambil paket menginap, karena kolam ini dibuka untuk umum hanya sampai jam 5 sore. Nah,,, tarif menginap untuk satu malam kamarnya murah kok, dari harga 500an ribu rupiah sudah dapat dengan fasilitas yang lumayan lengkap.

  5. Padang Savana Bukit Pangonan


    Track menuju bukit pangonan dimulai dari beskem yang letaknya tidak jauh di timur Museum Kailasa. Untuk sampai ke padang savanna, pengunjung harus mendaki melalui satu bukit. Naik kemudian turun. Tidak jauh kok, paling memakan waktu 15-25 menit sudah sampai di padang savana bukit pangonan.

    Kalau mau menikmati sunrise atau sanset pengunjung harus mendekati bukit sebelahnya lagi, tambah durasi waktu 15an menit lah. Effort yang tergolong ringan untuk jelajah wisata alam.

    Toh kalau sudah sampai di padang savananya, atau saat menikmati sunrise dan atau sunsetnya, sungguh akan terlupakan segala kelelahan saat mendaki. Justru keinginan yang menggebu yang muncul untuk berlama lama menikmati Pesona Bukit Pangonan.

  6. Desa Wisata Dieng Kulon


    Yiha,,, ketemu Mas Alif Faozi (Ketua Pokdarwis Dieng Pandawa). Ini nih yang beneran namanya ngetrip ke Desa Wisata. Bener kata Mas Alif, desa wisata itu harus bisa menyuguhkan tiga pondasi yaitu Something to see, Something to do, dan Something to buy.

    Ada kenyamanan yang kami rasakan saat berkunjung ke Desa Wisata Dieng Kulon ini, sambil jalan masuk menyusuri gang kami mendengarkan story telling dari mas Alif, hangatnya interaksi menghilangkan rasa lelah perjalanan.

    Kemudian diajaklah kami singgah ke salah satu rumah untuk mencoba membuat produk kayu lukis yang memang sudah menjadi produk cinderamata dari Desa Wisata Dieng Kulon. Dan ternyata Desa Wisata Dieng Kulon ini sudah menjadi TOP 3 Desa Wisata Nasional loh, Hebat ya.

    Sayangnya waktu terasa begitu cepat hingga kami harus menyudahi kemesraan dan kehangatan interaksi ini.
    Thank Mas Alif, sudah berbagi cerita dan pengalaman. Bagi yang mau tau lebih banyak dan kepengin ngetrip di Desa Wisata Dieng Kulon bisa kepoin webnya di alamat situs http://diengpandawa.com

Destinasi destinasi wisata tersebut sih baru secuil dari pesonanya Dieng Banjarnegara. Masih banyak lagi destinasi wisata lainnya yang tidak kalah kece seperti, Telaga Merdada, Telaga Dringo, Kawah Candradimuka masih banyak lainnya.

So, Kapan kamu mau ngetrip ke Banjarnegara? Yuk Segera bikin plan, dan mari kemari berwisata ke Banjarnegara (“Ayo Plesir Maring Banjarnegara”)

Liburan ke Dieng Naik Angkutan Umum, Kenapa Tidak?

Telaga Sidringo. Dieng, Banjarnegara.

Siapa sih yang ngga kenal Dieng? Pasti tau lah, disini saya ngga akan bahas tentang destinasi wisata di dataran tinggi Dieng tapi mau bahas tentang cara menjangkaunya via transportasi umum. Emang, wilayah Dieng itu berupa pegunungan, tapi ngga pernah sepi dari pengunjung.

Nah, Wisatawan yang berkunjung ke Dieng dari arah timur pasti udah hafal jalur Wonosobo-Dieng, sebab transportasinya lumayan lancar dibanding jalur barat. Tapi gimana caranya yang dari arah barat biar efisien perjalananya via angkutan umum?

Sebelumnya kita tentukan dulu, kamu ke Dieng titik Start-nya dari mana.

1. Yang pertama, jika kamu dari arah Pekalongan.
Misal dari kota Pekalongan, kamu langsung menuju ke terminal Kajen, disana ada beberapa pilihan angkutan untuk menuju ke terminal Kalibening, Banjarnegara. Angkutanya berupa mikro-bus dan bus ¾ yang beroprasi setiap hari. Saya sarankan sihh mending naik bus ¾ PO.Muncul atau Arisa, karena lebih cepat dan ngga lama nge-temnya. Perjalanan Kajen-Kalibening memakan waktu sekitar 1 jam tapi usahakan jangan sampai lebih dari jam 3 sore pas nyampai di terminal Kalibening, soalnya bakalan susah nyari angkutan buat nyambung perjalanan ke Dieng, lebih baik start pagi atau malah dini hari dari terminal Kajen biar bisa langsung ke Dieng tanpa nunggu lama. Fyi, arus penumpang Kajen-Kalibening sibuk pas dini hari soalnya banyak penjual ikan laut dari Pekalongan yang jualan di pasar pagi Kalibening, Batur atau Karangkobar. Tergantung Kalender jawa.

Jalan Kalibening-Wanayasa

Setelah sampai di Kalibening langsung aja naik Mikro bus jurusan Karangkobar, dan minta turun di pertigaan Wanayasa untuk nyambung angkutan lagi. Biasanya Bus Wanayasa-Batur cuma ada pas pagi antara jam 05.00 sampai jam 08.00 pagi, kalo kesiangan sedikit pilihan satu-satunya Cuma Pick-Up. Setelah sampai di Batur, naik bus lagi jurusan Batur-Wonosobo dan turun di Dieng…dan Sampai!

Estimasi Biaya dan waktu Pekalongan-Dieng naik angkutan umum.
• Kajen-Kalibening (1 jam/40Km/Bus ¾ ) = Rp. 25.000
• Kalibening-Wanayasa (15 menit/12km/mikro Bus) = Rp. 7.000
• Wanayasa-Batur (20 menit/18km/PickUp) = Rp. 7.000
• Batur-Dieng (10 menit/9km/mikro bus) = Rp. 5.000

2. Yang kedua, titik Start Terminal Purwokerto.
Misal kamu dari Jakarta atau Jawa barat dan turun di terminal Purwokerto, langsung aja naik Bus ¾ jurusan Wonosobo. Kamu bisa naik PO. Cebong Jaya atau Teguh yang superrr cepat dan turun di terminal Banjarnegara. terus lanjutin mikro bus jurusan Banjarnegara-Karangkobar dengan waktu tempuh sekitar 1 Jam. Biasanya, mikro bus Banjar-Karangkobar Cuma sampai jam 5 sore setelah itu udah ngga ada lagi, jadi lebih pagi lebih baik.

Biasanya Mikro bus dari Banjarnegara-Karangkobar ada yang langsung menuju arah Kalibening. tapi lama nunggu penumpang di Karangkobar jadi mending lanjutin naik mikro Karangkobar-Kalibening dan turun di pertigaan Wanayasa. Sama kaya point nomer 1, kalo udah sampai Pertigaan Wanayasa perjalanan dilajuntin naik PickUp atau kalo lagi beruntung dapet Mikro bus. nyambung lagi di Batur arah Dieng naik mikro jurusan Batur-Wonosobo dan turun di Dieng. Sampai….

Estimasi Biaya dan waktu Pekalongan-Dieng naik angkutan umum.
• Purwokerto-Banjarnegara (1 Jam/38km/Bus ¾ ) = Rp. 15.000
• Banjarnegara-Karangkobar (1 Jam/26Km/Mikro Bus) = Rp. 15.000
• Karangkobar-Wanayasa (5 Menit/6Km/Mikro Bus) = Rp. 4.000
• Wanayasa-Batur (20 menit/18km/PickUp) = Rp. 7.000
• Batur-Dieng (10 menit/9km/mikro bus) = Rp. 5.000

Hadiah Akhir Tahun, Famtrip Banjarnegara

Tanggal 10-12 November 2017, aku mendapat kesempatan mengikuti kegiatan Famtrip blogger dan media yang diselenggarakan oleh Dinas Pariwisata Kabupaten Banjarnegara. Sebuah keberuntungan bisa bergabung dengan blogger dari berbagai daerah. Aku bersama 35 peserta yang terdiri dari blogger, jurnalis, dan fotografer bersiap mengexplore potensi wisata Kabupaten Banjarnegara.

Hari pertama, Jumat 10 November 2017
1. The Pikas Adventure

Peserta Famtrip Banjarnegara, @bajalananblog

Continue reading “Hadiah Akhir Tahun, Famtrip Banjarnegara”

Desa Wisata Winong, Alternatif Wisata Ramah Anak

OUTBOUND ANAK DI BANJARNEGARA

Silakan, Mbak. Duduk dulu, Pak Warno sedang dalam perjalanan ke sini.” Mbak Eni menyambut kedatangan aku bersama teman-teman Banjarnegara Tourism di depan warung Attaprata , warung sederhana yang didirikan oleh Pokdarwis Dewi Sri sebagai fasilitas penunjang wisata tubing dan outbound anak. Dengan wajah ceria, beliau menyalami kami satu per satu.

Betapa bahagianya kami mendapat sambutan yang begitu hangat dan istimewa. Dan ini kami dapat tiap kali datang ke Desa Wisata Winong. Ya, tiap kali karena ini bukan kali pertama kami datang ke Desa Wisata Winong. Kalau tidak salah ingat, sudah tiga kali ini kami silaturrahim untuk sebuah tujuan yaitu pemetaan wisata. Dengan suguhan utama keramahan, semacam ada rasa yang tertinggal di Desa Winong, Kecamatan Bawang, Kabupaten Banjarnegara.

TUBING ANAK DI BANJARNEGARA
rute tubing…

Continue reading “Desa Wisata Winong, Alternatif Wisata Ramah Anak”

Jangan Datang ke Bukit Asmara Situk

Selamat datang di tulisan perdana saya di blog yang dibuat secara kolektif untuk mengabarkan ke dunia bawhasanya Banjarnegara itu benar-benar “Ada”. Nah tulisan perdana ini sedikit nepotisme, saya tulis seputar kampung halaman sendiri karena kebetulan saya lahir di dusun Siweru desa Kalilunjar, Kecamatan Banjarmangu, Kabupaten Banjarnegara. Judul ‘Jangan Datang ke Bukit Asmara Situk’ mungkin menjadi pro kontra, akan terjadi kontra jika tulisan ini tidak dibaca dengan lengkap hingga bagian akhir.

Nah pertama kali saya ingin membahas kata “jangan” yang selama ini menjadi lawan secara psikologi, dimana seseorang terutama anak-anak akan melawan kata jangan. Contoh: seorang Ibu berkata “kamu jangan buka lemari itu ya nak!” kepada anaknya. Kemudian dalam benak si anak akan timbul rasa penasaran yang begitu membara, kenapa si anak tidak boleh buka lemari itu. Ada apa di dalam lemari?, hingga akhirnya rasa penasaran semakin menguat. Akhirnya perintah “jangan buka lemari” justru ia lawan, dan ia membuka lemari tersebut.
Mungkin ini salah satu alasan saya menuliskan judul menggunakan kata “Jangan”, harapannya akan dilawan oleh pembaca sehingga berdatangan para pembaca ke Bukit Asmara Situk.

Bukit Asmara Situk itu apa ?

Bukit Asmara Situk ya bukit biasa layaknya bukit-bukit yang lainnya di Nusantara. Bukit yang diberikan Tuhan untuk dimanfaatkan secara baik agar lebih memiliki nilai/manfaat. Warga kampung kami memanfaatkan bukit tersebut sebagai salah satu tempat wisata yang bisa menarik banyak pengunjung hingga berdampak baik untuk masyarakat setempat, perputaran ekonomi sedikit terbantu dengan adanya obyek wisata tersebut.

Ada apa saja di Bukit Asmara Situk ?

Banyak banget, kalau dituliskan di sini bakalan penuh dan sepertinya tidak cukup. Pun juga nanti jadi males baca, misal saya tulis; ada rumput, ada tapak sendal, ada ikat rambut jatuh, ada karet bekas nasi rames, dll. Nah kan kalau ditulis semua bikin bosen. Solusi biar ga bosen ya dengan cara datang langsung ke Bukit Asmara Situk, serius deh, buktikan !

Bukit Asmara Situk, Kalilunjar