Ternyata Dawet Ayu Banjarnegara Punya Banyak Variasi, Lho! Nggak Percaya?

Yuk share!
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Banjarnegara sudah dikenal oleh banyak orang dengan Dawet Ayunya. Tak afdol rasanya kalau mampir ke kota ini tapi belum mencicipi sajian khas dawet ayunya. Sabtu, 17 Maret 2018 kemarin bertepatan dengan tanggal merah memperingati hari raya Nyepi dan kebetulan saya ada kepentingan ke kota Banjarnegara. Saat melewati ex terminal kota Banjarnegara, terlihat ramai oleh ibu-ibu yang berpakaian batik. Ada gerangan apa di sana?

Setelah memarkirkan sepeda motor di pinggir jalan, saya pun bergegas masuk menuju lokasi keramaian tadi. Usut punya usut ternyata saat itu sedang ada Festival Dawet Ayu Banjarnegara tahun 2018.

cairan gula jawa yang dicampur buah durian

Jadi, selain ada festival dawet ayu, di sini juga ada berbagai macam perlombaan seperti: lomba thek-thek, lomba peragaan busana dan tentunya lomba kreasi dawet ayu dari perwakilan beberapa kecamatan di Kabupaten Banjarnegara.

Tanpa banyak menunggu saya pun langsung menghampiri satu persatu perwakilan dari tiap-tiap kecamatan yang masing-masing menyajikan berbagai macam kreasi dawet. Tapi mohon dimaafkan, saya tidak hafal semua perwakilan kecamatannya hanya ingat kreasi dari satu meja ke meja yang lainnya yang rata-rata berbeda.

Saat mendekati meja yang pertama terlihat kendil-kendil dari tanah liat yang terisi juruh atau cairan gula jawa untuk memberi rasa manis dawet. Satu yang menarik perhatian adalah adanya buah durian-durian yang dimasukan ke dalam cairan gula jawa tadi. Sudah bisa ditebak, ini pasti dawet  yang mempunyai ciri khas penggunaan durian dalam komposisinya. Dari aromanya pun sudah tercium wanginya, tapi bagi yang suka durian sih.

tampilan dawet yang cantik

Geser lagi ke meja sebelah, ada sekelompok ibu-ibu yang terlihat sibuk sedang mempersiapkan dawet. Saat saya menyapa, mereka sangat ramah dan mau menjawab pertanyaan-pertanyaan.

Awalnya saya mau membeli dawet yang mereka buat namun, ada ibu yang menjawab, “wah dawetnya nggak dijual, mas, ini buat lomba saja” ohhh, saya pun manggut-manggut. Akan tetapi, setelah berjalan kaki beberapa langkah, saya pun dipanggil oleh si ibu tadi (mungkin kasihan) dan akhirnya saya pun mendapatkan jatah segelas dawet yang berbahan dasar tepung ganyong kalau nggak salah.

“gimana rasanya, mas?” tanya si ibu.

“mmm enak, bu. apalagi ini gratis, cuma apa boleh aku minta nambah es batunya?” weew ngelunjak.

“boleh-boleh, mas, sini biar tak tambahin”. Tak berapa lama, si ibu tadi pun menambahkan es batu ke dalam gelas dawet tadi dan akhirnya sesuai selera, dingin.

dawet yang divariasikan dengan buah salak

Makin bergeser ke dalam, saya makin menemui berbagai macam variasi dawet mulai dari tampilan, rasa, cara penyajian hingga bahan-bahan yang digunakan.

Ada yang membuat dawet dengan campuran buah carica khas Dieng. Ada yang menggunakan pewarna dari daun pisang kering atau klaras untuk warna hitam/cokelat. Ada juga yang membuat dawet dengan campuran buah salak dan daun kelor.

Nih contoh resep cendol atau dawet klaras daun pisang.

Bahan-bahan:

  • 100 gram tepung beras
  • 250 gram pati gelang (tepung gelang)
  • 10 lembar daun pisang kering
  • Air secukupnya

Cara pembuatan:

  • Ambil daun pisang yang kering kemudian dicuci lalu di bakar hingga berwarna hitam. Setelah itu dihaluskan dan ditambahak sedikit air hingga berwarna hitam.
  • Campur tepung beras dan panti gelang menjadi satu dan tambahkan air secukupnya.
  • Adonan dimasak dengan api sedang sambil terus diaduk.
  • Ketika adonan matang dan mengental, siapkan mangkuk yang berisi air. Tuang adonan yang sudah matang di atas cetakan cendol sambil ditekan supaya keluar butiran-butiran cendolnya.
  • Setelang dingin, cendol tadi disajikan dengan santan dan cairan gula jawa.

Gimana, mudah kan cara pembuatannya? Boleh loh dicoba di rumah.

Awalnya memicingkan mata, hmmm daun kelor kok dibuat campuran dawet? Namun setelah melihat hasilnya dan rasanya ternyata enak juga. Kuncinya ada pada komposisi bahan yang digunakan harus pas.

Namun dari kesemuanya, ada yang sangat menarik perhatian mata ini, yaitu olahan dawet yang dibuat semacam puding dan dipresentasikan dengan apik layaknya hidangan pencuci mulut di hotel-hotel.

Puding-puding yang terlihat seperti dawet setelah didinginkan dalam freezer ini kemudian dipotong-potong dan disiriam dengan cairan gula jawa serta santan kental. Sangat cantik dilihat apalagi ditambah dengan buah cherry merah di atasnya. Presentasi yang paripurna.

Hal yang lebih spesial adalah saat proses penjurian. Jurinya istimewa, ada Bapak Bupati Budhi Sarwono beserta istri serta Ibu Kapolres Banjarnegara.

Dari meja satu ke meja lainnya, para juri mencicipi satu persatu sajian dawet yang bervariasi tadi. Ada yang ekspresinya sumringah, ada juga yang datar-datar saja. Tak lupa para peserta berebut ingin foto bersama mereka.

Satu hal lucu ketika sang bupati berujar “wah ini perut bisa kembung, mencicipi berbagai macam dawet yang disediakan” dan disambut gelak tawa para pengunjung siang itu.

bapak Bupati Budhi Sarwono sedang mencicipi dawet

Jadi, kapan kalian mencicipi Dawet Ayu Banjarnegara langsung di kota asalnya?

4 Replies to “Ternyata Dawet Ayu Banjarnegara Punya Banyak Variasi, Lho! Nggak Percaya?”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *